rinduku terserak

14 11 2007

hampir disepanjang jalan,

dimana dulu terlewati begitu saja,

sudut-sudut kenangan,

warna jingga terluka,

ketika bukan genggaman,

atau sejumput senyuman,

menoleh…lalu menghampa!

rinduku terserak,

dalam putaran roda,

jengkal demi jengkal

::: tanpa warna nestapa, berserak saja :::





melayang

8 11 2007

menikmati titian nada,

berjuta improvisasi,

lagu nostalgia,

suara alto Iga Mawarni,

atau si centil Trie Utami,

juga Queen of firework, Syaharani…

tak melulu musik jazz yang konon milik kaum ‘biasa-biasa’ saja sejarahnya,

suguhan seni tradisi yang tak dilupakan om su-Djaduk,

Om Sudjud, jathilan hingga gejog lesung,

dan jadilah melayang,

dalam setiap alur,

menikmati detik demi detik,

dengan sepincuk sate,

juga kopi manis…

terus melayang…terbius lalu terhanyut…melenggak-lenggok….berteriak sepuasnya..lalu tertawa..lagi dan lagi…

::: sejumput kenangan dari setengah hari bersama difla, mbak nefi, pak peye, om bambang paningron, om su-Djaduk, jajoek, ajie wartajazz, tante syaharani yang menamparku karena lama tak meng-sms-nya, mas Ken yang beralih dari menejer band rock sekelas boomerang jadi jazzy, tante Iga yang romantis dan mas iwan di ngayogjazz2007, November 4@ padepokan Bagong K :::





selayang pandang

8 11 2007

pagi itu hujan rintik-rintik,

mendung masih menggelayut,

seakan malas pergi dari langit Jogjakarta,

mengawali hari minggu dengan memotret,

sejenak mencicipi teh panas dan lemper dari Godean,

lalu beranjak menyambangi pasar di pusat kota,

Beringharjo..begitu dia biasa dilafalkan,

menyelusup diantara tubuh-tubuh beradu,

melirik kiri lalu kanan,

mencari sebentuk kain,

berdasar cokelat dengan titik hitam,

orang kebanyakan menyebutnya ‘truntum’,

alkisah,

konon dulu katanya seorang putri raja menunggu suaminya dengan mengerjakan lembaran kain itu,

akhir menemukan kios kecil,

kios batik hajah sugeng,

menyapa, mencari, meraba kehalusannya,

dan pasti menawarnya…

sekian menit berlalu,

kutinggalkan kios kecil itu dan melaju,

kini seseorang menunggu di ‘pasar’ modern,

biasanya aku menyebutnya amplas!

hanya mencicipi sepotong roti,

ku gigit dan kurasakan pedasnya,

menegak softdrink,

tiba-tiba kotak mungil berbunyi,

“ayo kita berangakat”.

sebuah panggilan untuk menyambangi sebuah dusun di selatan Jogja.

yah..hari itu aku akan menikmati alunan jazz..

NGAYogjazz2007..

::: dan cerita pun akan berlanjut :::





kosong adalah isi

11 10 2007

meneguhkan hati,

dalam kebersamaan,

bersujud bersama menyembah Ilahi,

membuka hati,

mengulurkan tangan,

menghaturkan pesan,

karena kesempurnaan bukanlah milik manusia,

putihkan jiwa,

lembaran hidup terbarukan,

menarik nafas,

menjejakkan langkah,

kosong hari ini,

tonggak berjuta aksi,

berkarya untuk sesama.

::: sudut kantor 5:50pm :::





hello..

4 10 2007

sampai detik ini,

empat puluh lima menit berlalu dari  ketika kudengar kotak silver itu berbunyi,

hanya sederet pesan,

Halo Dian. Been a while. How are u?

singkat dan meluruhkan hati,

menghentak di siang yang sudah sangat terik.

:::  terima kasih untuk sapamu :::





[ imu ]

19 09 2007

Gelayut senyummu tak menyingkir,

Menghantui setiap detak,

Sadarku terdesak,

 

Kembali harus terduduk,

Tertunduk,

Menata hati yang terantuk,

 

Peri kecil aku kangen kamu,

 

Serasa diiris sembilu,

Aku tak mampu,

Meski sekedar menghalau,

Biarkan aku menjauh,

Tuk melupakan.

 

Tolong,

Jangan buat aku mengering,

Lalu meluluh jatuh,

Aku hanya ingin bisikkan,

 

Peri kecil…imu





[Bila aku boleh bercerita]

19 09 2007

Tiga bulan lalu aku bersua sosoknya,

Mungil, mengumbar pesona,

bawa warna mejikuhibiniu,

 

dipaksa aku untuk sekedar menoleh,

lalu tertegun,

Mendengarkan dia berceloteh,

Menatap tingkahnya,

 

Dan,

Aku mulai mengenalnya,

Mengiriminya sederet kata,

160 karakter saja,

hidupku tak lagi abu-abu,

sesekali kuangkat telpon,

mencoba memencet nomornya,

bergosip,bertutur apa adanya,

tergelak,

tiba-tiba pelangi bergelayut dipundakku,

aku bahagia…

 

syukurku padaMu,

aku boleh mengenalnya,

aku boleh kembali tertawa,

aku tak lagi menghampa,

anugerah terindah,

 

aku ingin menemaninya

semampuku,

aku ingin mencoba,

terlahir baru,

 

ijinkan aku,

beri aku kesempatan,

untuk selalu menjagamu,

dalam rapuhku,

 

bodohnya aku,

kulukai putih hatinya,

 

semoga masih ada,

pengampunannya.

 

::: bukan peri kecil lagi :::





today

19 09 2007

salahkanku..

bila saja aku keliru..

ingatkanku..
kala aku berjalan menjauh..

perbincangan,
ditemani segelas es coffemix,
juga capjay goreng,

bertutur akan sebuah kisah,
menggiring angan,
ke masa silam,

penyesalan,
pertobatan,
keluh,
harap,
juga kebimbangan,

“lagi-lagi entahlah….”

aku sedikit bosan,
dengan ke-ENTAHLAH-an”

kala,
sesosok aku,
harus berdiri
dipersimpangan,
lalu termenung..
dan lagi-lagi tertunduk…

hari ini,
untuk sebuah kisah diantara dian.

[ October 03, 2006 in about me]





seonggok aku

19 09 2007

galauku kau tinggalkan,
teronggok di ujung jalan yang gelap,

pelitamu sempat menuntunku,
saat itu..
kala kamu berjejer di sampingku,
mengulurkan tanganmu dalam tatihku,

hingga tiba-tiba beda itu menghujam,
menjadikan kebersamaan itu menguap,
sirna tertiup angin malam,

pagiku tak lagi biru,
merah tertimbun sembilu,
kala aku tersadar,

bayangmu berkelebat menjauh..
meninggalkan wangi shampoo,
lembut pipi,
juga senyum yang menentramkan.

aku merapuh tanpamu,
pelita yang hilang dalam terang,
mengejankan tubuhku,

entah sampai kapan aku mampu bertahan dalam kehampaan

[tak ada yang mampu menjadi sepertimu]





batavia_parisvanjava

19 09 2007