[ imu ]

19 09 2007

Gelayut senyummu tak menyingkir,

Menghantui setiap detak,

Sadarku terdesak,

 

Kembali harus terduduk,

Tertunduk,

Menata hati yang terantuk,

 

Peri kecil aku kangen kamu,

 

Serasa diiris sembilu,

Aku tak mampu,

Meski sekedar menghalau,

Biarkan aku menjauh,

Tuk melupakan.

 

Tolong,

Jangan buat aku mengering,

Lalu meluluh jatuh,

Aku hanya ingin bisikkan,

 

Peri kecil…imu





[Bila aku boleh bercerita]

19 09 2007

Tiga bulan lalu aku bersua sosoknya,

Mungil, mengumbar pesona,

bawa warna mejikuhibiniu,

 

dipaksa aku untuk sekedar menoleh,

lalu tertegun,

Mendengarkan dia berceloteh,

Menatap tingkahnya,

 

Dan,

Aku mulai mengenalnya,

Mengiriminya sederet kata,

160 karakter saja,

hidupku tak lagi abu-abu,

sesekali kuangkat telpon,

mencoba memencet nomornya,

bergosip,bertutur apa adanya,

tergelak,

tiba-tiba pelangi bergelayut dipundakku,

aku bahagia…

 

syukurku padaMu,

aku boleh mengenalnya,

aku boleh kembali tertawa,

aku tak lagi menghampa,

anugerah terindah,

 

aku ingin menemaninya

semampuku,

aku ingin mencoba,

terlahir baru,

 

ijinkan aku,

beri aku kesempatan,

untuk selalu menjagamu,

dalam rapuhku,

 

bodohnya aku,

kulukai putih hatinya,

 

semoga masih ada,

pengampunannya.

 

::: bukan peri kecil lagi :::





today

19 09 2007

salahkanku..

bila saja aku keliru..

ingatkanku..
kala aku berjalan menjauh..

perbincangan,
ditemani segelas es coffemix,
juga capjay goreng,

bertutur akan sebuah kisah,
menggiring angan,
ke masa silam,

penyesalan,
pertobatan,
keluh,
harap,
juga kebimbangan,

“lagi-lagi entahlah….”

aku sedikit bosan,
dengan ke-ENTAHLAH-an”

kala,
sesosok aku,
harus berdiri
dipersimpangan,
lalu termenung..
dan lagi-lagi tertunduk…

hari ini,
untuk sebuah kisah diantara dian.

[ October 03, 2006 in about me]





seonggok aku

19 09 2007

galauku kau tinggalkan,
teronggok di ujung jalan yang gelap,

pelitamu sempat menuntunku,
saat itu..
kala kamu berjejer di sampingku,
mengulurkan tanganmu dalam tatihku,

hingga tiba-tiba beda itu menghujam,
menjadikan kebersamaan itu menguap,
sirna tertiup angin malam,

pagiku tak lagi biru,
merah tertimbun sembilu,
kala aku tersadar,

bayangmu berkelebat menjauh..
meninggalkan wangi shampoo,
lembut pipi,
juga senyum yang menentramkan.

aku merapuh tanpamu,
pelita yang hilang dalam terang,
mengejankan tubuhku,

entah sampai kapan aku mampu bertahan dalam kehampaan

[tak ada yang mampu menjadi sepertimu]





batavia_parisvanjava

19 09 2007





chengchengpo

12 09 2007

tulisan ini bukan bagian karya seni,

hanya merupakan curahan hati…setelah sekian lama mencoba menjadi pujangga,

bicara dalam bahasa yang aku sendiri tidak memahaminya,

ketika aku mencoba mengenangkan,

akan dirinya…sesosok yang kupuja,

lembut tatapnya,

bijak tutur dan sapanya,

dia tegar selaksa batu karang,

menembus angin,

menghadang malam kelam,

peluknya berkawan bintang,

tawa lepasnya penuh pesona,

dinantikan layaknya mentari pagi di ujung sana,

dia…dan hanyalah dia….

peri kecilku…

::: hari ini aku merindukanmu :::





batavia

12 09 2007

menapaki setiap jengkal ibukota,

berlari diantara beton-beton bertingkat,

mencoba menelusup kereta bermesin,

peluh bercucuran seakan setimpal dengan segepok lembaran rupiah,

dibalik nestapa juga keheningan merasuk jiwa menghampa,

mencari tawa,

mengumbar ilusi tiada henti,

berteman whiskihours sembari bergelayut mesra,

menantikan bahagia yang tak kunjung tiba,

batavia,

kota sejuta pesona,

kota penuh luka..

::: selepas weekend di ibukota republik indonesia :::